Kepindahan saya dari Medan ke Pekalongan memberikan cerita yang unik. Istri saya ternyata memiliki sepupu sepupu yang sangat cerdas dan relijius. Mereka sangat suka berbagi pengalaman dan ilmu mereka saat saya berkunjung. Satu bagian yang paling menarik dari diskusi yang kami lakukan adalah sebuah cerita yang bagus tentang pengendalian hati terhadap kekayaan.
Awalnya saya bertanya tentang jenis pengajian apa yang berkembang disana. Ternyata jenis pengajian yang bertema Spiritual Islami dengan pendekatan Thariqah (Semacam Majlis Dzikir yang banyak berkembang di Indonesia). Dari dulu, saya memang suka bertanya tentang sejarah suatu gerakan, entah mengapa, asal mula berdiri atau terjadinya suatu hal yang besar selalu berhasil menarik perhatian saya.
Memang Apa ceritanya?
Begini, saya mulanya bertanya tentang beda Thariqat yang banyak berkembang di Medan dengan yang berkembang di Pekalongan. Saudara saya menjelaskan bahwa sebenarnya tujuannya sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah, hanya bedanya yang satu secara penampilan sangat dianjurkan untuk sederhana walaupun ia kaya raya sementara disana, apa yang ada dalam diri sebaiknya ditunjukkan saja agar terhindar dari kemunafikan.
Maksudnya gimana? Saya bertanya lagi karena belum mengerti juga.
Sepupu: Maksudnya, kalau praktisinya adalah orang yang benar benar kaya, maka tidak apa ia kemana mana dengan menggunakan mobil mewah atau sarung yang mahal. Tujuannya adalah untuk menghindari konflik batin dengan tetap bertakwa pada Allah. Silakan menikmati kekayaan, dengan tetap bertakwa dan rendah hati.
Lalu ia bercerita bahwa seorang Syaikh pernah ditanya oleh seorang muridnya:
'Ya Syaikh, mengapa anda terlihat bermewah mewah, padahal ajaran Islam mengajarkan hidup sederhana?'
Sang Guru tahu kalau ia menjawabnya maka ia akan diberondong lagi dengan pertanyaan lanjutan yang intinya akan berujung perdebatan Lebay. Jadi, ia mengajak muridnya masuk kedalam mobilnya yang sangat mewah dan keren.
Tetapi, ia menyuruh muridnya untuk membawa sebuah wadah berisi air yang saat ia berada didalam mobil, dengan syarat, ia sama sekali tidak boleh menumpahkan setetes pun air dalam wadah itu.
Si Murid belum mengerti apa maksudnya tetapi ia melakukan apa yang diperintahkan Gurunya. Mobil pun berjalan dengan halusnya, sementara Sang Guru sambil memakan makanan yang enak enak dan mahal serta mereka melewati perumahan yang keren dan elit, sementara si murid tetap saja memperhatikan dan menjaga dengan sepenuh hati wadah berisi air tadi agar tidak tumpah.
Akhirnya sampailah mereka pada tujuan. Lalu Syaikh bertanya pada sang murid 'Coba kamu ceritakan, apa saja tadi yang kamu lihat dan alami' Si murid bingung dan menjawab, 'wah, saya nggak merhatiin sepanjang perjalanan Guru, karena sedang fokus pada wadah supaya airnya tidak tumpah setetes pun' katanya polos.
Lalu Sang Syaikh pun berkata dengan bijak 'Begitu pula dengan orang orang yang dekat dengan Allah, bagaimana pun riuh dan hebatnya dunia yang berseliweran didepan mata dan seluruh indranya, hatinya tetap terkunci dan terpaku hanya kepada Allah, sebagaimana kamu sama sekali tidak memperhatikan apa yang terjadi diluar dirimu, karena sibuk mengendalikan wadah agar airnya tidak tumpah'
Saya tersentak mendengar cerita itu dan berkata dalam hati 'Bener juga ya? Fokus yang begitu penuh pada Allah sehingga kemewahan tidak menguasai hati, hemm yayaya.....'
Karena begitu menyentaknya, cerita yang sudah saya dengar hampir 5 bulanan ini masih terekam kuat di memory dan sekarang, saya mengabadikan cerita bagus ini untuk diri sendiri, sekaligus mengingatkan agar walaupun nanti sekeren apapun, namun hati tetap berfokus hanya kepadaNya, insya Allah.
Jadi, menurut pemahaman yang ini, tak masalah menjadi dan terlihat kaya, asal hati tetap Fokus padaNya dengan melakukan segala ajaran kebaikan, termasuk Zakat, Infaq, Shadaqah dan segala jenis amalan lainnya, yang akan lebih mudah dilakukan ketika seseorang itu memiliki rezeki yang berlebih.
Tak ada masalah dengan tetap bergaya elit dengan hati yang penuh dengan Takwa. Hemm, sebuah pemikiran yang menarik dan patut dihormati, karena memang Allah juga bukan melihat tampilan, tetapi kualitas takwanya.
Banyak juga orang miskin yang sombong dan suka berbuat durjana serta meremehkan Tuhan. Khusus untuk orang miskin yang sombong, saya sendiri pernah bertemu dan mungkin saya akan menceritakannya suatu saat.
Dulu saya pikir orang miskin yang sombong itu tidak ada atau hanya ada dalam cerita cerita orang saja, ternyata benar benar ada dan memang sangat unik hehehe
Ah, itulah pengaruh sebuah cerita yang bagus. Ia akan terekam dengan baik dan mencerahkan siapapun yang mendengar atau membacanya. Dan semoga kita semua dikaruniai olehNya kemampuan untuk tetap Fokus padaNya seumur hidup, dunia akhirat.
Aamin
NB: Silakan Share jika bermanfaat. Jika ada perbedaan persepsi, mari tetap bersaudara dalam perbedaan yang sangat lumrah adanya.
Salam Cahaya :)
Awalnya saya bertanya tentang jenis pengajian apa yang berkembang disana. Ternyata jenis pengajian yang bertema Spiritual Islami dengan pendekatan Thariqah (Semacam Majlis Dzikir yang banyak berkembang di Indonesia). Dari dulu, saya memang suka bertanya tentang sejarah suatu gerakan, entah mengapa, asal mula berdiri atau terjadinya suatu hal yang besar selalu berhasil menarik perhatian saya.
Memang Apa ceritanya?
Begini, saya mulanya bertanya tentang beda Thariqat yang banyak berkembang di Medan dengan yang berkembang di Pekalongan. Saudara saya menjelaskan bahwa sebenarnya tujuannya sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah, hanya bedanya yang satu secara penampilan sangat dianjurkan untuk sederhana walaupun ia kaya raya sementara disana, apa yang ada dalam diri sebaiknya ditunjukkan saja agar terhindar dari kemunafikan.
Maksudnya gimana? Saya bertanya lagi karena belum mengerti juga.
Sepupu: Maksudnya, kalau praktisinya adalah orang yang benar benar kaya, maka tidak apa ia kemana mana dengan menggunakan mobil mewah atau sarung yang mahal. Tujuannya adalah untuk menghindari konflik batin dengan tetap bertakwa pada Allah. Silakan menikmati kekayaan, dengan tetap bertakwa dan rendah hati.
Lalu ia bercerita bahwa seorang Syaikh pernah ditanya oleh seorang muridnya:
'Ya Syaikh, mengapa anda terlihat bermewah mewah, padahal ajaran Islam mengajarkan hidup sederhana?'
Sang Guru tahu kalau ia menjawabnya maka ia akan diberondong lagi dengan pertanyaan lanjutan yang intinya akan berujung perdebatan Lebay. Jadi, ia mengajak muridnya masuk kedalam mobilnya yang sangat mewah dan keren.
Tetapi, ia menyuruh muridnya untuk membawa sebuah wadah berisi air yang saat ia berada didalam mobil, dengan syarat, ia sama sekali tidak boleh menumpahkan setetes pun air dalam wadah itu.
Si Murid belum mengerti apa maksudnya tetapi ia melakukan apa yang diperintahkan Gurunya. Mobil pun berjalan dengan halusnya, sementara Sang Guru sambil memakan makanan yang enak enak dan mahal serta mereka melewati perumahan yang keren dan elit, sementara si murid tetap saja memperhatikan dan menjaga dengan sepenuh hati wadah berisi air tadi agar tidak tumpah.
Akhirnya sampailah mereka pada tujuan. Lalu Syaikh bertanya pada sang murid 'Coba kamu ceritakan, apa saja tadi yang kamu lihat dan alami' Si murid bingung dan menjawab, 'wah, saya nggak merhatiin sepanjang perjalanan Guru, karena sedang fokus pada wadah supaya airnya tidak tumpah setetes pun' katanya polos.
Lalu Sang Syaikh pun berkata dengan bijak 'Begitu pula dengan orang orang yang dekat dengan Allah, bagaimana pun riuh dan hebatnya dunia yang berseliweran didepan mata dan seluruh indranya, hatinya tetap terkunci dan terpaku hanya kepada Allah, sebagaimana kamu sama sekali tidak memperhatikan apa yang terjadi diluar dirimu, karena sibuk mengendalikan wadah agar airnya tidak tumpah'
Saya tersentak mendengar cerita itu dan berkata dalam hati 'Bener juga ya? Fokus yang begitu penuh pada Allah sehingga kemewahan tidak menguasai hati, hemm yayaya.....'
Karena begitu menyentaknya, cerita yang sudah saya dengar hampir 5 bulanan ini masih terekam kuat di memory dan sekarang, saya mengabadikan cerita bagus ini untuk diri sendiri, sekaligus mengingatkan agar walaupun nanti sekeren apapun, namun hati tetap berfokus hanya kepadaNya, insya Allah.
Jadi, menurut pemahaman yang ini, tak masalah menjadi dan terlihat kaya, asal hati tetap Fokus padaNya dengan melakukan segala ajaran kebaikan, termasuk Zakat, Infaq, Shadaqah dan segala jenis amalan lainnya, yang akan lebih mudah dilakukan ketika seseorang itu memiliki rezeki yang berlebih.
Tak ada masalah dengan tetap bergaya elit dengan hati yang penuh dengan Takwa. Hemm, sebuah pemikiran yang menarik dan patut dihormati, karena memang Allah juga bukan melihat tampilan, tetapi kualitas takwanya.
Banyak juga orang miskin yang sombong dan suka berbuat durjana serta meremehkan Tuhan. Khusus untuk orang miskin yang sombong, saya sendiri pernah bertemu dan mungkin saya akan menceritakannya suatu saat.
Dulu saya pikir orang miskin yang sombong itu tidak ada atau hanya ada dalam cerita cerita orang saja, ternyata benar benar ada dan memang sangat unik hehehe
Ah, itulah pengaruh sebuah cerita yang bagus. Ia akan terekam dengan baik dan mencerahkan siapapun yang mendengar atau membacanya. Dan semoga kita semua dikaruniai olehNya kemampuan untuk tetap Fokus padaNya seumur hidup, dunia akhirat.
Aamin
NB: Silakan Share jika bermanfaat. Jika ada perbedaan persepsi, mari tetap bersaudara dalam perbedaan yang sangat lumrah adanya.
Salam Cahaya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar