Darimana asal pemikiran menyimpang bahwa orang Islam itu harus miskin?
Seingat saya, hal ini baru baru saja terjadi saat pemikiran yang berbau Tasawuf muncul. Sejarah yang saya pahami menyebutkan bahwa pada zaman zaman setelah Imam yang Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafii dan Ahmad bin Hanbal) terjadi kekacauan dan perebutan pengaruh serta kekuasaan.
Pada masa masa inilah banyak terjadi perang dan orang orang pada bergelimang dengan syahwat keinginan untuk menjadi paling berkuasa dan kaya raya. Ajaran Nabi tentang persatuan seolah hilang ditelan nafsu berkuasa yang menggila itu.
Banyak sekali orang orang yang terpengaruh dalam lingkaran itu. Pertarungan antar suku juga sangat mempengaruhi peperangan yang banyak terjadi dimasa Khulafaur Rasyidiin dan Imam yang Empat.
Kegilaan terhadap kekuasaan ini ternyata membuat sebagian orang menjadi gerah dan mundur dari pertarungan super gila itu. Mereka memilih mengasingkan diri dan hidup sangat sederhana. Buat mereka, kekayaan duniawi menyebabkan trauma yang sangat berat dan menyakitkan serta telah memakan banyak nyawa.
Nah, mereka inilah yang disebut dengan Kaum Shufi. Mereka mengasingkan diri dari kehidupan masa itu yang penuh dengan carut marut keduniawian yang over lebay dan memilih hidup tenang dan fokus untuk pembersihan jiwa.
Salah satu pioner yang paling terkenal dalam ajaran Tasawuf ini adalah Imam Al Ghazali, yang banyak diantara ajarannya sangat menganjurkan untuk hidup sederhana dan menghindari kehidupan dunia. Kitabnya yang sangat terkenal Ihya' 'Ulumudiin (Menghidupkan Ilmu Ilmu Agama) banyak sekali mengkaji berbagai pertanyaan yang menyangkut jiwa.
Juga, dikitab itu mengajarkan bagaimana Psikologi ala Tasawuf dalam mendidik diri dan anak. Itu Kitab yang sangat terkenal dan Best Seller dikalangan tertentu hingga kini. Sayangnya, menurut para pakar Hadits Imam Al Ghazali Rahimahullah dalam kitabnya ternyata banyak mengutip hadits hadits yang Dhaif bahkan Maudhu'.
Diantaranya adalah seorang pakar hadits yang juga penulis buku Best Seller Laa tahzan yaitu DR 'Aidh Al Qarniy. Dibukunya yang sangat fenomenal itu bahkan ia melontarkan kritik yang sangat tajam pada Al Ghazali yaitu 'Ia mencoba memberi orang lain cahaya, sementara ia sendiri berada dalam kegelapan' Kritiknya lebih ditujukan karena banyaknya hadits lemah dan Maudhu' yang digunakan beliau dalam kitab kitabnya.
Dha'if artinya hadits yang penyampainya kurang dipercaya (meyakinkan) dan Maudhu' adalah hadits gadungan alias Boong Doang. Ini sangat dimaklumi karena pengumpulan Hadits secara resmi baru dimulai sejak masa Imam Al Bukhari yang berjuang habis habisan (sampai melajang seumur hidup) untuk mengumpulkan hadits dengan kualitas tertinggi didunia yang bisa kita baca dan menjadi referensi tershahih di planet bumi.
Ajaran yang sangat menganjurkan kemiskinan ini menurut yang saya pahami adalah akibat dari trauma berat yang dialami sebagian kelompok yang melihat langsung pertarungan dahsyat perebutan kekuasaan. Sehingga mereka memilih untuk mundur dari kancah pertarungan dan fokus untuk pembersihan jiwa (Tadzkiyatun Nafs).
Hal ini diperparah dengan merajalelanya peredaran hadits hadits gadungan dimasyarakat yang banyak disebar untuk kepentingan penguasa saat itu. beberapa contoh haditsnya adalah seperti ini 'Sebaik baik keluarga yang dirahmati Allah adalah keluarganya Muawiyah' atau 'Siapa yang membaca Alqur'an dengan rajin maka ia akan mendapat 100.000 pahala per hurufnya' dan yang sejenis.
Muawiyah adalah Bos dari Bani Umayyah yang memegang kekuasaan setelah terbunuhnya Imam Ali dan anaknya Husein. Sementara, pihak dari suku lain juga mempersiapkan perencanaan selama 30 tahun untuk meruntuhkan Bani Umayyah. Bentuk Dinasti ini sebenarnya bukan ajaran Rasulullah, melainkan diambil dari bangsa Romawi dan Persia, 2 Imperium yang paling hebat dimasa itu.
Jadi hadits hadits gadungan itu termasuk juga ajaran yang mengajarkan untuk hidup miskin dan menjauhi dunia. Apalagi, para Sufi juga sangat rajin menulis dan mengabadikan pengalaman Spiritual mereka yang bombastis, maka, lengkaplah sudah, hingga kitab kitab mereka yang banyak mengajarkan kemiskinan dan penderitaan sebagai bentuk kemuliaan tersebar hingga kini.
Ajaran ini sampai ke Indonesia dan disambut dengan begitu hangat. Hingga diduga kuat, ajaran yang aslinya banyak mengajarkan kemiskinan itu mulia tiada tara dan hanya membersihkan hati saja mendarah daging dan menjangkiti banyak dari orang orang Islam di Indonesia, termasuk saya dulunya
Nah, sudah tahu sejarahnya kan? Jadi sebenarnya tak ada masalah apapun dengan kekayaan, hanya pada masa itu orang orang berlomba lomba untuk menjadi penguasa tertinggi dan menggunakan kekayaan untuk berfoya foya dan melupakan ajaran
Nabi. Sementara Nabi sendiri tidak melarang orang untuk Kaya Raya, namun anjurannya adalah GUNAKAN KEKAYAAN UNTUK SEMAKIN DEKAT padaNYA dan MELAKUKAN BANYAK KEBAIKAN.
Lalu hiduplah sederhana tetapi pastikan jumlah Rekening Tabungan anda isinya tidak sederhana. Setuju?
To Be Continued.....
NB: Silakan Share dan Jadikan Orang Orang Islam semuanya jadi Sadar bahwa Kekayaan itu hanya alat mencapai RidhaNya, bukan tujuan Utama. Informasi disini boleh dikonfirmasi ke para Pakar Sejarah Islam, siapa tahu ada pemaparan yang kurang tepat
Salam
Seingat saya, hal ini baru baru saja terjadi saat pemikiran yang berbau Tasawuf muncul. Sejarah yang saya pahami menyebutkan bahwa pada zaman zaman setelah Imam yang Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafii dan Ahmad bin Hanbal) terjadi kekacauan dan perebutan pengaruh serta kekuasaan.
Pada masa masa inilah banyak terjadi perang dan orang orang pada bergelimang dengan syahwat keinginan untuk menjadi paling berkuasa dan kaya raya. Ajaran Nabi tentang persatuan seolah hilang ditelan nafsu berkuasa yang menggila itu.
Banyak sekali orang orang yang terpengaruh dalam lingkaran itu. Pertarungan antar suku juga sangat mempengaruhi peperangan yang banyak terjadi dimasa Khulafaur Rasyidiin dan Imam yang Empat.
Kegilaan terhadap kekuasaan ini ternyata membuat sebagian orang menjadi gerah dan mundur dari pertarungan super gila itu. Mereka memilih mengasingkan diri dan hidup sangat sederhana. Buat mereka, kekayaan duniawi menyebabkan trauma yang sangat berat dan menyakitkan serta telah memakan banyak nyawa.
Nah, mereka inilah yang disebut dengan Kaum Shufi. Mereka mengasingkan diri dari kehidupan masa itu yang penuh dengan carut marut keduniawian yang over lebay dan memilih hidup tenang dan fokus untuk pembersihan jiwa.
Salah satu pioner yang paling terkenal dalam ajaran Tasawuf ini adalah Imam Al Ghazali, yang banyak diantara ajarannya sangat menganjurkan untuk hidup sederhana dan menghindari kehidupan dunia. Kitabnya yang sangat terkenal Ihya' 'Ulumudiin (Menghidupkan Ilmu Ilmu Agama) banyak sekali mengkaji berbagai pertanyaan yang menyangkut jiwa.
Juga, dikitab itu mengajarkan bagaimana Psikologi ala Tasawuf dalam mendidik diri dan anak. Itu Kitab yang sangat terkenal dan Best Seller dikalangan tertentu hingga kini. Sayangnya, menurut para pakar Hadits Imam Al Ghazali Rahimahullah dalam kitabnya ternyata banyak mengutip hadits hadits yang Dhaif bahkan Maudhu'.
Diantaranya adalah seorang pakar hadits yang juga penulis buku Best Seller Laa tahzan yaitu DR 'Aidh Al Qarniy. Dibukunya yang sangat fenomenal itu bahkan ia melontarkan kritik yang sangat tajam pada Al Ghazali yaitu 'Ia mencoba memberi orang lain cahaya, sementara ia sendiri berada dalam kegelapan' Kritiknya lebih ditujukan karena banyaknya hadits lemah dan Maudhu' yang digunakan beliau dalam kitab kitabnya.
Dha'if artinya hadits yang penyampainya kurang dipercaya (meyakinkan) dan Maudhu' adalah hadits gadungan alias Boong Doang. Ini sangat dimaklumi karena pengumpulan Hadits secara resmi baru dimulai sejak masa Imam Al Bukhari yang berjuang habis habisan (sampai melajang seumur hidup) untuk mengumpulkan hadits dengan kualitas tertinggi didunia yang bisa kita baca dan menjadi referensi tershahih di planet bumi.
Ajaran yang sangat menganjurkan kemiskinan ini menurut yang saya pahami adalah akibat dari trauma berat yang dialami sebagian kelompok yang melihat langsung pertarungan dahsyat perebutan kekuasaan. Sehingga mereka memilih untuk mundur dari kancah pertarungan dan fokus untuk pembersihan jiwa (Tadzkiyatun Nafs).
Hal ini diperparah dengan merajalelanya peredaran hadits hadits gadungan dimasyarakat yang banyak disebar untuk kepentingan penguasa saat itu. beberapa contoh haditsnya adalah seperti ini 'Sebaik baik keluarga yang dirahmati Allah adalah keluarganya Muawiyah' atau 'Siapa yang membaca Alqur'an dengan rajin maka ia akan mendapat 100.000 pahala per hurufnya' dan yang sejenis.
Muawiyah adalah Bos dari Bani Umayyah yang memegang kekuasaan setelah terbunuhnya Imam Ali dan anaknya Husein. Sementara, pihak dari suku lain juga mempersiapkan perencanaan selama 30 tahun untuk meruntuhkan Bani Umayyah. Bentuk Dinasti ini sebenarnya bukan ajaran Rasulullah, melainkan diambil dari bangsa Romawi dan Persia, 2 Imperium yang paling hebat dimasa itu.
Jadi hadits hadits gadungan itu termasuk juga ajaran yang mengajarkan untuk hidup miskin dan menjauhi dunia. Apalagi, para Sufi juga sangat rajin menulis dan mengabadikan pengalaman Spiritual mereka yang bombastis, maka, lengkaplah sudah, hingga kitab kitab mereka yang banyak mengajarkan kemiskinan dan penderitaan sebagai bentuk kemuliaan tersebar hingga kini.
Ajaran ini sampai ke Indonesia dan disambut dengan begitu hangat. Hingga diduga kuat, ajaran yang aslinya banyak mengajarkan kemiskinan itu mulia tiada tara dan hanya membersihkan hati saja mendarah daging dan menjangkiti banyak dari orang orang Islam di Indonesia, termasuk saya dulunya
Nah, sudah tahu sejarahnya kan? Jadi sebenarnya tak ada masalah apapun dengan kekayaan, hanya pada masa itu orang orang berlomba lomba untuk menjadi penguasa tertinggi dan menggunakan kekayaan untuk berfoya foya dan melupakan ajaran
Nabi. Sementara Nabi sendiri tidak melarang orang untuk Kaya Raya, namun anjurannya adalah GUNAKAN KEKAYAAN UNTUK SEMAKIN DEKAT padaNYA dan MELAKUKAN BANYAK KEBAIKAN.
Lalu hiduplah sederhana tetapi pastikan jumlah Rekening Tabungan anda isinya tidak sederhana. Setuju?
To Be Continued.....
NB: Silakan Share dan Jadikan Orang Orang Islam semuanya jadi Sadar bahwa Kekayaan itu hanya alat mencapai RidhaNya, bukan tujuan Utama. Informasi disini boleh dikonfirmasi ke para Pakar Sejarah Islam, siapa tahu ada pemaparan yang kurang tepat
Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar