Rabu, 31 Juli 2013

Apakah Nabi Muhammad benar benar 'Mencintai' Kemiskinan? (1)

Ada beberapa (Banyak?) kalangan yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad itu sangat 'mencintai' kemiskinan. 

Apakah benar begitu? 

Saya juga penasaran tentang hal ini lalu menanyakan adik kandung saya yang lulusan sebuah pesantren besar di Jawa Timur dan lulus dengan prestasi telah menghafal sekitar 2500 hadits dan bersertifikasi sanadnya hingga Rasulullah (Saya melihat sertifikasinya dan merasa heran, ternyata untuk menjadi Penghafal Hadits urusannya memang sangat resmi).



Tak hanya menghafal, pria ini juga menguasai Ilmu Ilmu Keislaman dengan mendalam. 8 tahun belajar dan membaktikan diri disana membuatnya jadi seorang Ahli Agama yang disegani.

Saat ia pulang ke Medan, ia membawa 1 LEMARI kitab kitab yang sangat tebal dan rata rata isinya dituliskan dalam Arab Gundul. Melihatnya saja sudah membuat saya kelelahan, apalagi harus membaca semua itu yang notabene, tulisannya saja belum saya mengerti hahaha 

Nah kira kira katanya begini 'Nabi itu sengaja mengeluarkan Hadits itu sesuai kondisinya. Jadi tak pukul rata. Saat ia bersama orang orang miskin, maka ia akan menyebutkan keutamaan mereka agar mereka merasa nyaman dan tak direndahkan bahkan sangat menyarankan untuk menjadi Kaya.

Berbeda dengan saat ia bersama para sahabatnya yang super kaya, maka ia menyarankan agar mereka hidup berzuhud. Jadi sebenarnya hadits itu situasional. Ini adalah Strategi nabi untuk tetap menghormati mereka yang saat itu masih miskin'

Begitulah kira kira isi dialog singkat saya dengan adik yang saat ini sedang mengajar di sebuah Pesantren di Malaysia.

Sementara, dalam pembelajaran saya sendiri.Setahu saya, Nabi itu sangat menganjurkan agar umatnya menjadi Kaya bahkan sekaya kayanya. Tak ada masalah dengan kekayaan, yang jadi problem adalah bagaimana kekayaan itu digunakan.

'Tangan diatas itu lebih baik daripada tangan dibawah'

'Sesungguhnya kefakiran itu mendekatkan pada kekafiran'

Adalah 2 Hadits yang Masyhur (Terkenal) yang menyebutkan keutamaan untuk menjadi tercukupi, tanpa menjadi miskin dan meminta minta. Bahkan saya pernah menemukan suatu Hadits yang menyebutkan bahwa sebaiknya orang orang sebelum meninggal untuk mewariskan harta pada anak anaknya agar mereka tidak menghamba pada hamba Allah yang lain karena kemiskinan.

Hadits hadits semacam ini sebenarnya sangat berjubel jubel. BANYAK SEKALI! Tetapi, saya heran, mengapa banyak yang terpengaruh dengan ide bahwa kemiskinan itu mulia? Bahkan salah seorang Guru Islam yang sangat saya hormati dalam sebuah bukunya juga sangat mengagung agungkan kemiskinan.

Padahal dalam ajaran Islam, banyak sekali amalan amalan hebat yang hanya bisa dilakukan jika anda punya rezeki berlebih. Contoh: Siapapun yang memberi makan orang yang berpuasa, maka ia juga akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang berpuasa itu.

Nah petikan Hadits diatas saja sudah menyebutkan bahwa ANDA HARUS PUNYA UANG LEBIH UNTUK BISA MEMBERI PADA ORANG LAIN!

Belum lagi tentang Haji, Zakat, Sedekah dan banyak lagi. Semuanya membutuhkan rezeki yang berlebih, selain kebutuhan dasar yang sudah terpenuhi. Bagaimana mungkin orang orang miskin bisa melakukan hal ini sementara kebutuhan dasarnya saja belum tercukupi?

Jadi anda pikir Tuhan itu salah memberi wahyu apa? hahahaha 

Dalam Al Qur'an juga banyak sekali anjuran dan pujian bagi orang orang kaya untuk menafkahkan harta dan jiwanya dijalan Allah. Ingat ya, zaman Nabi itu banyak sekali terjadi perang, anda pikir darimana orang orang Islam mendapat dana?

Mereka mendapat dana dari para sahabat sahabat terdekat Nabi yang Super Kaya seperti Abdurrahman Bin Auf dan Utsman bin Affan. Dana yang keluar dalam sekali perang bisa puluhan atau ratusan milyar. Coba hitung harga 1 kuda, 1 onta dan banyak sekali alat perang jadul seperti pedang, tombak perisai dan lainnya lalu kalikan dengan angka RATUSAN atau RIBUAN.

Maksudnya, harga 1 Onta atau Kuda dikalikan 100 + alat alat perang. Jika satu kuda saja harganya bisa mencapai antara 5 hingga 20 juta, maka silakan kalikan 100. Angka 100 itu saya ambil sebagai rata rata kuda yang digunakan dalam perang. Hitung saja sendiri dan anda akan tercengang dengan betapa besarnya biaya perang kala itu.

Itu belum tambah biaya logistik dan yang lain ya, masih kuda doang.

Apakah mungkin orang yang masih miskin bisa mendanai perang yang berbiaya super tinggi itu? Padahal pada masa itu JIHAD juga membutuhkan biaya yang sangat dahsyat seperti itu?

To Be Continued..

NB: Silakan Share agar semakin berkurang orang miskin dinegeri kita dan bertambah banyak orang kaya raya baik hati yang Ikhlas memberikan hartanya dijalan kebaikan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar