Dua rukun Islam yang terakhir ini sebenarnya tidak 100% jadi kewajiban kaum muslimin secara mutlak.
Syaratnya harus yang sudah kaya raya, hartanya bukan sekedar cukup tapi berlebih. Lebihnya harus banyak banget.
Kalau baru sekedar cukup, apalagi malah kurang, tentu saja tidak wajib zakat, apalagi haji.
Main paksa agar orang miskin bayar zakat dan pergi haji adalah sebuah penghinaan terhadap rukun Islam yang keempat dan kelima.
Bagaimana mungkin orang yang hartanya tidak cukup malah disuruh-suruh zakat segala.
Mana ada bayar zakat tapi nyicil?
Yang nyicil itu hanya orang nggak mampu. Kalau mampu dan memang hartanya berlebih, tinggal dikeluarkan saja. Nothing to loose.
Maka ada kasus bayar zakat tapi nyicil, itu pertanda ada yang tidak beres. Pasti ada kasak kusuk busuk di dalamnya.
Orang punya emas saja tidak wajib zakat, kecuali jika emasnya berlebih dan tidak dimanfaatkan, malahan ditimbun begitu saja. Itu yang wajib zakat.
Menimbumnya saja harus lebih dari setahun. Kalau nimbun seminggu langsung terpakai, itu sih masih 100% miskin, tapi belaga kaya.
Fakta memang tidak punya emas, apalagi lebih, apalagi nganggur. Antara pemasukan dan pengeluaran pas-pasan. Seringnya malah tekor.
Bahkan sekedar rumah tinggal yang rasssss saja masih nyicil, eh pake belagu mikir bayar zakat segala?
Akhirnya jadi lucu dan bikin tertawa sampai sakit perut, masak bayar zakat disuruh nyicil? Ada ada saja. Emang dasar modus.
Lagian mau aja disuruh nyicil zakat.
Haji juga sama. Ekonominya lemah, pemasukan kembang kempis, hartanys hanya gali lobang tutup lobang, eh pake belagu mau naik haji segala?
Ujung-ujungnya ngutang, terus bayar utangnya nyicil.
Aduh kok gitu sih?
Ini semua adalah eksploitasi terhadap kemiskinan. Udah hidupnya ngepas, pakai belaga suruh bayar zakat naik haji pula.
Tahu kenapa?
Karena dibalik perintah dan anjuran berkedok agama itu, ada potensi menarik dana besar dari kalangan yang tipikal, yaitu kurang sejahtera, minim literasi hukum syariat, tapi kelebihan kalori beragama.
* * *
Materi kajian saya kayak gini bukan tanpa resiko. Sebab says dianggap mematikan potensi pengerukan dana umat.
Kurang sejalan dengan kehendak para pengelola lembaga filantropi.
Ustadz macam ini jangan diundang lagi.
Hehehe
(Ustadz Ahmad Syarwat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar