Mencampuradukkan NLP dengan New Age Movement (NAM) adalah awal dari kerancuan dalam memahami NLP. Apa itu NAM? NAM adalah gerakan membangkitkan kesadaran spiritual tanpa ritual - menjadi spiritualis tanpa agama. Poin-poin pemikirannya antara lain:
- Manusia itu sempurna, saking sempurnanya ia bersifat ilahiyah (mampu mencipta). Ia tidak membutuhkan Tuhan, karena kemampuan Tuhan ada dalam dirinya.
- Kita dapat menciptakan realitas hanya dengan memikirkannya (baca: mengirimkan vibrasi yang tepat pada semesta). Tuhan adalah semesta, semesta adalah Tuhan.
- Semua agama itu sama. Seperti cahaya, sumbernya sama hanya spektrumnya berbeda-beda sehingga menghasilkan banyak warna. Semua baik, semua bermanfaat, maka ambil apa yang bermanfaat dari Islam, Kristen, Hindu, Budha untuk mencapai pencerahan spiritual sejati.
Terasa familiar kah? NAM ini ibarat sebuah agama baru yang punya akidah sendiri, seorang muslim tentu perlu waspada. Ia didakwahkan secara terang-terangan maupun secara tersembunyi melalui buku-buku dan seminar dan pengembangan diri. Buku The Secret misalnya, adalah salah satu buku yang mendakwahkannya.
Nah, bila NLP dianggap turunan dan bagian dari NAM, maka wajar bila ada ustadz yang kemudian mengharamkan NLP. Pertanyaannya, benarkah NLP adalah bagian dari NAM?
Mari kita menengok sejarah. Menurut Michael Hall, asal mula NLP memang dapat dihubungkan dengan Human Potential Movement di Esalen. Esalen adalah tempat berkumpulnya para akademisi yang tertarik dengan bagaimana mengaktualisasikan potensi manusia. Di sana berkumpul para psikolog dan akademisi seperti Abraham Maslow, Victor Frankl, Fritz Perlz, Virginia Satir, Carl Rogers, Skinner, Buckminster Fuller, Gregory Bateson dll.
Entah bagaimana ceritanya, Esalen kemudian menjadi tempat tumbuh suburnya NAM. Ini membuat para akademisi di sana tidak nyaman dan mundur dari sana. Masuknya NAM ini kemudian menjadi awal dari kemunduran Esalen.
Apa hubungannya dengan NLP?
NLP sendiri tidak lahir di Esalen, melainkan di Universitas California. Namun kebetulan, NLP dibangun dengan memodel Fritz Perls dan Virgina Satir yang kebetulan aktif di Esalen.
Nah, hubungan seperti inilah yang kemudian membuat NLP dianggap sebagai bagian dari NAM. Pertanyaannya, apakah Perls dan Satir bagian dari NAM? Jelas bukan, mereka tokoh psikologi. Perls dengan Gestalt Psychology-nya dan Satir dengan Family Therapy-nya.
Dari sisi konsep pun, NLP tidak mempercayai apa yang diyakini oleh NAM. Namun, sebaliknya, para praktisi NAM sangat tertarik dengan model-model dari NLP. Nah, para praktisi NAM yang belajar NLP ini mulai menciptakan kerancuan.
Mereka mencampuradukkan metodologi NLP dengan keyakinan NAM mereka. Misal, bagaimana mengaktifkan Law of Attraction dengan NLP, bagaimana menjadi penguasa takdir Anda sendiri dengan NLP, dsb.
Padahal, NLP tidak mengajarkan hal-hal yang demikian.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar