Suatu
malam, saya nonton acara Biography yang mengetengahkan tentang tokoh
legendaris asal Malaysia yang masih hidup hingga kini yaitu Mahathir
Muhammad. Ia dijuluki The Little Soekarno karena kejeniusannya membangun
negara Malaysia dari bukan apa apa menjadi negara yang cukup maju dan
mendunia, terlepas dari kontroversi atas prilaku tidak menyenangkan oleh
sebagian manusia disana.
Yang paling menarik tentang metode Mahathir dalam mengelola, mengembangkan serta memecahkan masalah adalah caranya yang sangat sederhana dalam menangani semuanya. Katanya 'Saya ini seorang Dokter (Dari acara itu, saya baru tahu bahwa ia seorang dokter medis) dan kami para dokter sudah diajari dan dilatih untuk mendiagnosis penyakit sebelum menterapi pasien.Hal yang sama saya lakukan saat saya menjadi Perdana Menteri Malaysia, saya berusaha 'mendiagnosis' akar masalah dari negara ini dan mengembangkan sejenis terapi yang tepat untuk menangani gangguan penyakit dinegara ini'
Kalimat diatas tidak sebegitu tepatnya, namun begitulah kira kira inti dari pernyataannya tentang bagaimana ia mengelola dan membereskan banyak masalah dan mengembangkan sebuah negara, dari kecil hingga mendunia. Hal ini begitu sederhana namun tepat guna dan yang terpenting, filosofinya sudah teruji selama puluhan tahun dan berhasil membuat Malaysia menjadi negara yang maju, jika dibandingkan dengan Indonesia yang lebih dahulu merdeka.
Sama dengan Psikoterapis seperti saya, kemampuan menemukan dengan tepat penyebab akar dari problem klien merupakan hal terpenting. Sebab jika tidak, maka akan sangat banyak menghabiskan waktu, energi dan biaya percuma untuk hanya berputar putar dan problemnya tetap saja ada dalam diri klien. Namun saat akarnya sudah ketemu, maka bisa dibilang setengah dari problemnya sudah teratasi dan tingkat kesembuhan klien dari gangguan emosinya bisa dibilang nyaris mendekati sempurna dan tidak kambuh kambuh lagi.
Negara juga seperti itu. Semua warga negara perlu tahu dan memahami akar masalah dari negara yang sedang ditinggali ini. Negara yang sedang sakit ini jangan dibenci, dimaki dan direndahkan. Layaknya orang yang sedang sakit, ia butuh perhatian, kehangatan dan komunikasi yang baik agar ia bersedia menceritakan apa yang sedang membuatnya gundah atau menyebabkan ia sakit.
Buat ia nyaman dan wawancaralah ia secara mendetil dan anda akan mendapati bahwa akar problema dari negara kita adalah bagaimana kita dulu dididik secara massal dan cara kita mendidik anak anak kita. Tentu ada penyebab lain tetapi intinya ya balik kesitu situ juga. Semua kegagalan dalam proses mendidik membawa pada perpecahan, konflik yang tak kunjung habis, krisis kejujuran, susahnya mendapatkan pemimpin yang amanah, kezaliman dan pembunuhan dimana mana, tidak tegas dan cenderung tak punya harga diri dan segalanya, itu berakar dari bagaimana para pemimpin daerah dan para pejabat negara dulu dididik oleh orang tua dan lingkungan sekitarnya.
Tidak mungkin seorang Pejabat yang kita labeli sebagai Koruptor begitu lahir langsung berniat 'Sengaja aku jadi Koruptor dan menghancurkan bangsa karena memang itulah tujuanku diciptakan' Apa memang begitu? Apa memang Si 'Bayi Koruptor' tadi memang sudah 'dikuasai Iblis' hingga ia memakan uang negara seenaknya?
Dalam kasus lain, Apa ada anak bayi kecil mungil tanpa dosa sudah berniat jahat untuk hamil diluar nikah? Niat untuk jadi anak durhaka? Sengaja mau menghancurkan nama baik keluarga dan lain sebagainya? Emang bisa bayi sekecil itu berpikir jangka panjang begitu?
Kalau memang tak begitu, darimana asal semua kejahatan dan hal hal yang kita semua tak nyaman melihat, mendengar dan merasakan akibatnya?
Tak lain dan tak bukan adalah karena si anak bayi tadi (yang kini jadi pejabat negara) telah dididik dan terdidik dengan cara yang keliru hingga akhirnya mengakibatkan bencana global, karena ternyata banyak dari para pemimpin kita (tapi tidak semua) rupanya juga dididik secara keliru dan lihat hasilnya, Dahsyat kan?
Pembunuhan, Perampokan, Pencurian, Pemerkosaan, Infra Struktur negara yang kacau balau dan sejenisnya, adalah akibat dari pola asuh yang keliru dan lingkungan yang menyesatkan. Solusinya? Perbaiki cara mendidik anak anak kita, karena 30 tahun lagi, mereka yang akan memimpin negara kita. Dan kalau tidak mulai sekarang, kapan lagi? Kalau tak mulai dari mendidik kita sendiri, anda mau mengharapkan siapa?
Karena semua perubahan besar dalam sejarah dimulai dari merubah diri sendiri. Mahathir Muhammad telah mendidik dirinya dengan belajar dari Soekarno tentang bagaimana membangun negara dan ia berhasil. Sekarang giliran kita semua dan berusahalah sekuat mungkin, karena pada akhirnya, apa yang kita perjuangkan akan mendapatkan hasilnya, cepat atau perlahan.
Pastikan luruskan niat anda saat melakukannya. Siapa tahu, anda belum sempat menikmati keberhasilan saat negara kita semakin maju dan menguasai dunia karena keburu dipanggil olehNya. Namun, apa yang sudah anda perjuangkan mendapat nilai disisiNya dan ridhoNya yang tiada batas karena anda sudah melakukan sesuatu.
Kalau memang harus mati dalam perjuangan, maka matilah dengan Tujuan Besar, Die with Smile! Cause U have do something to your God, to your country, to your world.
Matilah dengan tersenyum, karena anda sudah melakukan sesuatu, untuk Tuhanmu, untuk negaramu dan untuk dunia yang lebih baik dari sebelumnya.
Dengan prinsip Tujuan Besar seperti itu, maka cara hidup yang lebih indah manalagi yang anda inginkan?
#SelfHypnotherapy for #ChangeTheWorld
NB: Doakan saya, karena setelah beberapa urusan beres, maka kemungkinan besar (mungkin pada 2014) saya akan menulis buku yang mengkaji secara detil tentang ini dan bagaimana cara mengatasinya lewat disiplin ilmu yang saya dalami, insya Allah
Yang paling menarik tentang metode Mahathir dalam mengelola, mengembangkan serta memecahkan masalah adalah caranya yang sangat sederhana dalam menangani semuanya. Katanya 'Saya ini seorang Dokter (Dari acara itu, saya baru tahu bahwa ia seorang dokter medis) dan kami para dokter sudah diajari dan dilatih untuk mendiagnosis penyakit sebelum menterapi pasien.Hal yang sama saya lakukan saat saya menjadi Perdana Menteri Malaysia, saya berusaha 'mendiagnosis' akar masalah dari negara ini dan mengembangkan sejenis terapi yang tepat untuk menangani gangguan penyakit dinegara ini'
Kalimat diatas tidak sebegitu tepatnya, namun begitulah kira kira inti dari pernyataannya tentang bagaimana ia mengelola dan membereskan banyak masalah dan mengembangkan sebuah negara, dari kecil hingga mendunia. Hal ini begitu sederhana namun tepat guna dan yang terpenting, filosofinya sudah teruji selama puluhan tahun dan berhasil membuat Malaysia menjadi negara yang maju, jika dibandingkan dengan Indonesia yang lebih dahulu merdeka.
Sama dengan Psikoterapis seperti saya, kemampuan menemukan dengan tepat penyebab akar dari problem klien merupakan hal terpenting. Sebab jika tidak, maka akan sangat banyak menghabiskan waktu, energi dan biaya percuma untuk hanya berputar putar dan problemnya tetap saja ada dalam diri klien. Namun saat akarnya sudah ketemu, maka bisa dibilang setengah dari problemnya sudah teratasi dan tingkat kesembuhan klien dari gangguan emosinya bisa dibilang nyaris mendekati sempurna dan tidak kambuh kambuh lagi.
Negara juga seperti itu. Semua warga negara perlu tahu dan memahami akar masalah dari negara yang sedang ditinggali ini. Negara yang sedang sakit ini jangan dibenci, dimaki dan direndahkan. Layaknya orang yang sedang sakit, ia butuh perhatian, kehangatan dan komunikasi yang baik agar ia bersedia menceritakan apa yang sedang membuatnya gundah atau menyebabkan ia sakit.
Buat ia nyaman dan wawancaralah ia secara mendetil dan anda akan mendapati bahwa akar problema dari negara kita adalah bagaimana kita dulu dididik secara massal dan cara kita mendidik anak anak kita. Tentu ada penyebab lain tetapi intinya ya balik kesitu situ juga. Semua kegagalan dalam proses mendidik membawa pada perpecahan, konflik yang tak kunjung habis, krisis kejujuran, susahnya mendapatkan pemimpin yang amanah, kezaliman dan pembunuhan dimana mana, tidak tegas dan cenderung tak punya harga diri dan segalanya, itu berakar dari bagaimana para pemimpin daerah dan para pejabat negara dulu dididik oleh orang tua dan lingkungan sekitarnya.
Tidak mungkin seorang Pejabat yang kita labeli sebagai Koruptor begitu lahir langsung berniat 'Sengaja aku jadi Koruptor dan menghancurkan bangsa karena memang itulah tujuanku diciptakan' Apa memang begitu? Apa memang Si 'Bayi Koruptor' tadi memang sudah 'dikuasai Iblis' hingga ia memakan uang negara seenaknya?
Dalam kasus lain, Apa ada anak bayi kecil mungil tanpa dosa sudah berniat jahat untuk hamil diluar nikah? Niat untuk jadi anak durhaka? Sengaja mau menghancurkan nama baik keluarga dan lain sebagainya? Emang bisa bayi sekecil itu berpikir jangka panjang begitu?
Kalau memang tak begitu, darimana asal semua kejahatan dan hal hal yang kita semua tak nyaman melihat, mendengar dan merasakan akibatnya?
Tak lain dan tak bukan adalah karena si anak bayi tadi (yang kini jadi pejabat negara) telah dididik dan terdidik dengan cara yang keliru hingga akhirnya mengakibatkan bencana global, karena ternyata banyak dari para pemimpin kita (tapi tidak semua) rupanya juga dididik secara keliru dan lihat hasilnya, Dahsyat kan?
Pembunuhan, Perampokan, Pencurian, Pemerkosaan, Infra Struktur negara yang kacau balau dan sejenisnya, adalah akibat dari pola asuh yang keliru dan lingkungan yang menyesatkan. Solusinya? Perbaiki cara mendidik anak anak kita, karena 30 tahun lagi, mereka yang akan memimpin negara kita. Dan kalau tidak mulai sekarang, kapan lagi? Kalau tak mulai dari mendidik kita sendiri, anda mau mengharapkan siapa?
Karena semua perubahan besar dalam sejarah dimulai dari merubah diri sendiri. Mahathir Muhammad telah mendidik dirinya dengan belajar dari Soekarno tentang bagaimana membangun negara dan ia berhasil. Sekarang giliran kita semua dan berusahalah sekuat mungkin, karena pada akhirnya, apa yang kita perjuangkan akan mendapatkan hasilnya, cepat atau perlahan.
Pastikan luruskan niat anda saat melakukannya. Siapa tahu, anda belum sempat menikmati keberhasilan saat negara kita semakin maju dan menguasai dunia karena keburu dipanggil olehNya. Namun, apa yang sudah anda perjuangkan mendapat nilai disisiNya dan ridhoNya yang tiada batas karena anda sudah melakukan sesuatu.
Kalau memang harus mati dalam perjuangan, maka matilah dengan Tujuan Besar, Die with Smile! Cause U have do something to your God, to your country, to your world.
Matilah dengan tersenyum, karena anda sudah melakukan sesuatu, untuk Tuhanmu, untuk negaramu dan untuk dunia yang lebih baik dari sebelumnya.
Dengan prinsip Tujuan Besar seperti itu, maka cara hidup yang lebih indah manalagi yang anda inginkan?
#SelfHypnotherapy for #ChangeTheWorld
NB: Doakan saya, karena setelah beberapa urusan beres, maka kemungkinan besar (mungkin pada 2014) saya akan menulis buku yang mengkaji secara detil tentang ini dan bagaimana cara mengatasinya lewat disiplin ilmu yang saya dalami, insya Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar