31 Mei 2013, Jumat kemarin, saya pergi secara mendadak ke Jogja karena melihat banyak teman yang mengupload foto mereka yang sedang persiapan kesana. Dengan sangat cepat saya pun bersiap dan terburu buru hingga dari Pekalongan sampai di Jogja pada jam 3 sore. Saya belum mendapatkan penginapan sementara saudara yang tinggal disana belum bisa dihubungi.Ada banyak rintangan sebenarnya untuk ikut acara ini. Saya belum bayar administrasi, saya tak tahu tempatnya, saya belum tahu bakalan menginap dimana, saya juga tak mengenal secara langsung orang orang yang bertanggung jawab dengan acara itu. Saya juga bukan pesilat, namun entah kenapa semangat saya menggila saat kesana.
Semangat yang berlebihan ini lalu saya meditasikan dan mendapat jawaban yang singkat dan penuh tenaga. Saya takkan membeberkannya pada anda, karena sangat pribadi. Jawaban batiniah itu membuat saya langsung bergerak dan alhamdulillah, saya bisa hadir disana dan menikmati tiap momen kebersamaan bersama para pendekar yang telah mencurahkan segenap energinya untuk melestarikan budaya asli nusantara ini.
Saya berangkat dan menemukan banyak hal hebat disana. Saya bertemu dan belajar dengan para pendekar yang selama ini hanya bisa berkomunikasi atau melihat kegiatan lewat foto saja. Dengan Kang Gending Raspuzi, saya menanyakan sesuatu tentang Ameng Timbangan yang membuat saya penasaran dan akhirnya ketemu jawabannya. Dalam Workshop, ia mengajarkan sejenis Ilmu Tongkat dan Beberapa Jurus yang sekilas tampak tak berguna, namun setelah diakhir sesi dijelaskan kegunaannya, saya pun terperangah. Ternyata jurus jurus tadi mantap juga ya aplikasinya? :D
Lalu saat belajar dengan Abah Azis, Pengembang Maenpo Cikalong, saya mendapati Filosofi baru yang cenderung mengherankan, yaitu membeladiri tanpa menyakiti lawan secara frontal dan sangat mengandalkan 'Rasa'. Cukup dibuat jatuh saja dan jangan disakiti. Karena heran, maka saya langsung bertanya dan dijawab dengan disuruh maju kedepan yang berakibat saya kena jurus Cikalong :D Dan acara selanjutnya dilanjutkan dengan berlatih basic dari 'Rasa' ala Cikalong.
Saya memang sengaja bertanya biar nggak bingung. Buat apa saya datang jauh jauh dari Pekalongan kalau nggak menggunakan kesempatan emas ini? Biar sajalah dijatuhkan dll, yang penting, dapat pengalaman 'rasa' dari ilmu yang disampaikan para Guru Silat Terkemuka Indonesia dan Dunia ini.
Setelah istirahat, acara dilanjutkan dengan belajar Gerak Gulung Budidaya, sebuah metode Silat Kuno yang berasal dari kerajaan Pajajaran klasik. Teknik ini begitu sederhana dan terlihat lembek. Juga, ada pernyataan yang agak mengejutkan, yaitu dalam GG tak ada yang namanya block atau tangkisan.
Karena penasaran, saya bertanya lagi. 'Apa bener bisa ga pake ngeblok?' 'Gimana kalau kita menghadapi serangan atau pukulan yang sangat cepat?' Pertanyaan saya dijawab dengan dipersilakannya saya kedepan untuk mempraktekkan serangan yang saya maksud. saya melakukan serangan dan ternyata Kang Awang hanya mengelak dan memberikan serangan balik. Ia bisa membaca serangan dan memberikan serangan sekali hajar dititik titik yang sangat fatal.
Bisa dibilang, saya 'dihajar' Kang Awang didepan para peserta :D Pembelajaran diteruskan dengan para asistenya. Disini, saya mendapatkan ilmu dan pengalaman yang lebih berharga lagi. Pak Matias memberikan ilmunya secara royal. Pertanyaan pertanyaan saya diberikan jawaban dengan penjelasan dan praktek langsung yang membuat saya semakin mengerti filosofi dari GG.
Kemurahan hati plus kerendahan hati yang luar biasa sebenarnya adalah ciri yang lebih berkesan pada diri beliau. Kami diajari Filosofi dari gerakan GG yang sangat sederhana hingga saya berkesimpulan bahwa dalam satu gerakan GG terdapat antara 4 hingga 7 Filosofi yang mendasari gerakannya yang sangat sederhana namun sangat sangat berbahaya itu.
Diantaranya:
- Bagian manapun yang dapat, itu yang disikat.
- Tubuh harus selalu rilex dan tenang, semakin rileks, semakin bertenaga.
- Seranglah sebelum lawan menyerang, pertarungan sebenarnya sudah selesai bahkan sebelum dimulai.
- Selalu serang titik yang sangat lemah dan vital. Usahakan pertarungan selesai dalam satu serangan saja.
- Kembangkan sensitifitas dalam menganalisis serangan lawan dan memberi serangan balik yang fatal.
- Jangan mengelak atau menangkis, gunakan langkah yang taktis.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar