Minggu, 27 Mei 2018

Kenapa Perlu Belajar Dari Banyak Aliran?

Saya punya adik adik kandung yang terdidik dari jamaah tabligh dan....mereka bercadar. 

Sebagian adik saya juga terdidik di pondok Salafi dan kami asik asik saja, walaupun saya yang suka nyari gara gara sama mereka wkkkkk

Saya punya teman ngobrol, rekan diskusi dan beberapa alumni yang orang Salafi. Saya senang sekali ngobrol dengan mas mas yang ramah dan baik hati yang sering benerin jam saya yang rusak saat masih di Medan.

Saya ikut pengkajian kitab kuning tasawuf saat masih SMP atau SMU.

Saya juga sempat berguru Nahwu dan Shorof dengan abang abang Salafi yang jadi pimpinan pondok di Martubung :)

Saya pernah juga ngobrol, diskusi dan berteman dengan orang HTI.

Saya berteman dan bersahabat dalam dakwah dengan rekan dari KAMMI, LDK dan PKS

Saya juga punya saudara saudara sepupu yang kental dengan NU nya.

Saya berguru secara intens dengan seorang bapak yang Muhammadiyyah.

Saya juga pernah berdiskusi dengan orang Syi'ah.

Oh ya, saya juga punya Guru dan teman teman dari berbagai aliran penyembuhan. Reiki, Ruqyah, Bekam, Hypnotherapy, Ego State Therapy, EFT, NLP, Akupunktur, Herbalis dan lainnya.

Hemm apalagi ya, oh saya juga berteman dan berdiskusi dengan teman teman saya yang keren yang berbeda agama dulu secara teratur.

Saya belajar berbagai metode meditasi, pencerahan dan pemikiran para Spiritualis Timur dan Barat.

Saya belajar ilmu pengembangan diri dari banyak aliran.

Saya juga belajar filsafat dan juga pernah membaca buku buku kalangan liberal.

Saya sobatan dulu sama para playboy and 'pemaen' wkkkkk :v

Saya juga berteman dengan para pendekar silat, ahli beladiri dari berbagai aliran dan juga, orang orang yang suka nge gym :D

Belajar dari pengalaman yang kaya membuat kita lebih mudah hidup dalam kelapangan dada :)

Ia yang hanya mengetahui itu itu saja, bisa jadi biang kefanatikan yang bisa menyebabkan perpecahan.

Jangan tuhankan tokoh, organisasi, aliran, atau apapun sejenisnya.

Tuhankan Tuhan, tokohkan tokoh, alirankan aliran, manusiakan manusia.

Hidup itu nggak hitam dan putih saja, ada banyak warna lainnya. Tetapi, bukan berarti jadi manusia yang nggak punya prinsip loh ya. Tetap berprinsip namun tetap menghormati mereka yang berbeda program informasi awal dari kita.

Belajar dari siapa saja, pilih ilmu dan pendekatan yang paling moderat, nyaman dan paling works buat kita. Dan hormati siapa yang berbeda dengan kita :)

Hidup ini hanya sekali, mengapa yang cuman sekali ini dan nggak tau kapan habisnya waktu kita disini diisi dengan keributan dan saling memusuhi? ;)

Semoga bermanfaat dan Salam :)

Pagi Menjelang Siang, Ramadhan ke 10, 26 Mei 2018, Pekalongan.

Fahmy Arafat Daulay