Kamis, 06 April 2017

SEBERAPA TINGGI SEBENARNYA NILAI ILMU? (BAGIAN 2, TAMAT)

Untuk bisa benar benar sukses dalam semua bidang kehidupan itu masing masing ada ilmunya. 

Bidang kehidupan itu apa saja?

Secara umum adalah ini:

- Kesehatan

- Finansial

- Spiritualitas

- Hubungan

- Sosial

- Pendidikan

- Keluarga

Untuk berhasil dan bahagia dalam semua bidang diatas, masing masing ada ilmunya. Sebagian besar orang belum memahami ini dan beranggapan bahwa yang namanya kehidupan, adalah apapun yang diindoktrinasikan masyarakat. 

Sayangnya, indoktrinasi atau programming yang terjadi pada masyarakat kita secara umum malah membawa kerugian atau tidak memberdayakan.

Kondisi negara kita secara umum masih dibawah tindasan negara lain secara ekonomi, budaya, gaya hidup dan bahkan gaya mendidik. Negara kita bisa dibilang nyaris kehilangan jati dirinya dan kebanyakan, belum aware terhadap kondisi yang sebenarnya amat sangat berbahaya ini.

Maka, dibutuhkan ilmu ilmu yang atas izinNya bisa mendekatkan kita pada bahagia, kemudahan dan kesuksesan dalam segala bidang kehidupan.

Tentu saja, sukses itu bukan cuman seberapa banyak rekening anda, tapi juga mencakup seberapa enerjik anda, seberapa bahagia kehidupan rumah tangga anda, seberapa gaul dan empati anda dimasyarakat, seberapa peduli anda pada pengembangan diri, seberapa sukses anda mendidik anak dan yang terpenting, seberapa dekat anda padaNya sebagai persiapa menuju hidup yang lebih abadi, selama lamanya.

Jadi, proses belajar adalah proses yang akan dan pasti terjadi seumur hidup kita, sampe meninggal. Sebab seperti kata Aa Gym, semakin bertambah umur, semakin bertambah pula problem yang dihadapi. Kalau nggak siap dengan ilmunya, maka akan mengalami kesusahan.

Berdasarkan pengalaman selama bertahun tahun, statement Aa Gym itu sudah saya buktikan kebenarannya. 

Saya bahkan sempat mengalami kesusahan selama bertahun tahun akibat kurang upgrade ilmu ilmu yang dalam dunia nyata, amat amat sangat penting untuk dikuasai. Karena kalau nggak, alamat akan bawa sial dan beneran, jadi bener bener kena sial :D

Maka, saya tak ragu untuk berinvestasi atau mengeluarkan sejumlah uang, jika menurut pemikiran saya bahwa ilmu itu memang sangat saya butuhkan. Tak heran, jauh sebelum saya menikah, saya sudah mengetahui ilmu hyppnobirthing, karena saya tau, saat saya beristri nanti, saya insya Allah pasti akan menggunakannya dan benar saja, saya memang menggunakannya :)

Sekarang sekarang ini, saya berencana untuk mengikuti semacam seminar dan workshop parenting untuk mempersiapkan kami menjadi orang tua yang lebih baik lagi bagi Aysha. Workshop ini ada diluar kota, berbiaya 'mahal' dan tentu saja, itu tak masalah buat saya. 

Sebab, lewat pengalaman dan pembelajaran selama bertahun tahun, saya benar benar memahami bahwa manfaat atau value yang akan didapat, jauuuuuh lebih dahsyat dari invesment awal.

Walaupun bagi sebagian orang, saya dianggap guru, trainer, master atau apapun label yang terlihat keren dimata orang lain, saya tetap aware kalau dalam banyak hal sebagaimana yang saya sebutkan diatas, saya masih seorang pemula yang harus banyak belajar dan berlatih lagi, selamanya.

Karena, lewat pengalaman dan study case yang saya amati selama bertahun tahun, anak yang tak terdidik dengan baik akan menimbulkan masalah besar nantinya. 

Maka, jika anda sering membaca berita di sosmed ada anak yang menggugat ortunya sendiri, berkonflik urusan warisan dengan saudara sendiri atau bahkan membunuh orang tuanya sendiri, percayalah, itu akibat dari orang tuanya yang biasanya, belum tau ilmu mendidik anak.

Penyebabnya sederhana banget memang, tapi kalau nggak tau, bisa ancur lebur semuanya dan bahkan memakan korban nyawa :)

Jadi, kalau ada ilmu ilmu yang bermanfaat dan bisa menyelamatkan anda, membereskan anda dari potensi konflik yang mengerikan dan bisa membuat anda tambah bahagia, mengapa masih berat juga untuk belajar? :)

Sebelum diri benar benar merasakan efeknya, mulailah belajar dari sekarang. 

Jangan pelit berinvestasi pada ilmu, sebab nanti biasanya, kepahitan dan keperitanlah yang terasa didepannya :)

Salam :)

Fahmy Arafat Daulay

NB: Baca tulisan sebelumnya, karena masih nyambung dengan bahasan diatas.